Kebangkitan Pertanian Kota

5 0

ISU.CO.ID, JAKARTA – Pandemi mendorong warga menanam sendiri makanannya. Dengan proyeksi semakin banyak populasi manusia tinggal di perkotaan, tak terkecuali Indonesia, perkembangan pertanian kota amat positif dalam jangka panjang.

Pandemi Covid-19 telah mendongkrak pamor pertanian kota. Dengan beragam motif, warga coba menanam sendiri sayurannya, baik di pekarangan, teras, dinding, maupun atap rumahnya. Pembatasan pergerakan dan gangguan pasokan turut mengungkit hasrat untuk belajar memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Media tanam, benih, pupuk, pot, dan segenap perangkat berkebun laris diburu pembeli. Sementara kelas-kelas daring membeludak pesertanya meski digelar secara berbayar alias tidak gratis. Kelas-kelas itu menawarkan pelatihan tentang bagaimana menanam, membudidaya, atau berkebun di rumah atau di lahan sempit perkotaan.

Baca Juga : Semester I, Pupuk Indonesia catatkan volume produksi 6,2 juta ton

Sekelompok ibu-ibu yang tergabung di Keluarga Jahe di Tangerang Selatan, Banten, misalnya, mesti membuka kelas-kelas baru Kulwap alias Kuliah Whatsapp ”Vegetable Gardening” karena tak semua peminat tertampung. Kuota 250 perserta untuk setiap sesi pelatihan segera terpenuhi ketika pendaftaran dibuka sehingga sebagian mesti masuk ke daftar tunggu untuk kelas selanjutnya.

Sejumlah komunitas, lembaga sosial, dan filantrop membuka pelatihan serupa. Umumnya gratisan karena merupakan program amal. Mereka memanfaatkan kanal Youtube, Zoom, Google Meet, Instagram, Whatsapp, atau Telegram untuk menyebarkan materi pelatihan ke peserta. Seperti kelas yang diselenggarakan Keluarga Jahe pada sejumlah kelas, peserta didampingi selama mengaplikasikan ilmu berkebun atau budidaya di rumahnya.

Kebangkitan pertanian kota (urban farming) juga terlihat pada tren pencarian di Google. Di Indonesia, tren pencarian dengan sejumlah kata terkait pertanian kota mulai naik sejak awal April 2020 seiring perluasan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam rangka memutus rantai penyakit yang disebabkan virus korona baru.

Kata kunci pencarian yang melonjak antara lain ”menanam”, ”budidaya”, atau ”hidroponik” yang merujuk ke artikel tentang teknik atau tips tentang melakukannya sendiri (do it yourself) di rumah. Ada pula kata ”kangkung”, ”sawi”, ”bayam”, atau ”lele” yang merujuk pada jenis tanaman atau komoditas budidaya. Pencarian dengan sejumlah kata kunci itu naik hingga angka 100 yang berarti mewakili minat penelusuran tertinggi.

Dalam skala yang lebih luas, hobi menanam dapat menopang tujuan kemandirian pangan. Dalam laporan ”Anticipating The Impacts of Covid-19 in Humanitarian and Food Crisis Contexts”, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahkan menyarankan pemerintah negara-negara anggota untuk mendukung produksi pangan di tempat tinggal. Alternatif itu menjadi salah satu langkah meningkatkan ketersediaan pangan secara lokal dan menghindari disrupsi pada rantai pasok akibat pandemi.

Sumber : Pupuk Indonesia Raup Pendapatan Konsolidasi Rp 32,62 Triliun

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *