Lonjakan Laba Waskita Semester II

30 0

JAKARTA, Isu.co.id – PT Waskita Karya Tbk (WSKT) diprediksi membukukan lompatan laba bersih sebesar 200% pada semester II-2020 dibandingkan semester I-2020, kemudian meningkat 210% pada 2021 dibandingkan proyeksi tahun ini. Manajemen Waskita Karya dianggap berhasil memitigasi risiko pandemi Covid-19 dan telah beroperasi secara normal sejak pertengahan Mei.

Dengan demikian, laba bersih pada semester I-2020 diperkirakan hanya berkontribusi sebesar 25% dari laba bersih tahun ini.

Baca Juga : Waskita Karya (WKST) Kucurkan Pinjaman Rp4,5 Triliun ke Waskita Toll Road

“Laba bersih pada semester II-2020 diprediksi melonjak 200% menjadi Rp 354 miliar dibandingkan semester I-2020. Kami mengharapkan momentum pertumbuhan ini terus berlanjut dan mendukung kenaikan laba bersih pada 2021 sebesar 210% (yoy) menjadi Rp 1,5 triliun,” tulis analis UOB Kay Hian Sekuritas Arandi Ariantara dalam riset terbaru.

Waskita Karya menargetkan penyelesaian sejumlah proyek jalan tol pada semester II-2020, antara lain Krian-Legundi- Bunder dengan nilai proyek Rp 4 triliun, Cimanggis-Cibitung senilai Rp 4 triliun, dan Cinere-Serpong dengan porsi Waskita sebesar Rp 2,7 triliun.

Dengan penyelesaian proyek tersebut dan proyek turnkey, perseroan akan menerima pembayaran untuk tahun ini sebesar Rp 10-11 triliun. Salah satu kegiatan konstruksi Waskita Karya.

Di sisi lain, perseroan akan melakukan penghematan biaya administrasi dan umum untuk memperkuat keuangan. Tahun ini, porsi biaya G&A tersebut diharapkan hanya sebesar 3% terhadap pendapatan tahun ini.

Baca Juga : Semester I 2020, Waskita Karya Raih Pendapatan Usaha Rp 8,04 Triliun

Adapun untuk membayar utang yang jatuh tempo sebesar Rp 22 triliun, Waskita akan mengandalkan arus kas masuk dari pembayaran proyek dan divestasi aset yang ditargetkan mencapai Rp 17-18 triliun.

Waskita berencana mendivestasi tigaempat aset jalan tol untuk mendapatkan arus kas masuk sebesar Rp 7-8 triliun.

Jalan tol yang disiapkan untuk dilepas adalah ruas tol Kanci-Pejagan, Bekasi- Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), Pejagan-Pemalang, dan bagian minoritas di Cibitung-Tanjung Priok.

“Berdasarkan perhitungan kami, divestasi 50% pada tiga tol pertama bisa menghasilkan arus kas masuk sebesar Rp 9 triliun, dan pada P/B 1,1 kali. Keuntungan divestasi sebesar Rp 800 miliar,” ungkap Arandi.

Berbagai faktor tersebut mendorong UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli saham WSKT dengan target harga terbaru Rp 820.

Pada perdagangan kemarin, WSKT ditutup pada harga Rp 650. Dengan demikian, WSKT memiliki potensi capital gain sebesar 26%. Salah satu proyek Waskita Karya.

Sementara itu, manajemen Waskita Karya melaporkan bahwa pendapatan usaha pada semester I-2020 mencapai Rp 8,04 triliun.

Segmen jasa konstruksi masih menjadi penopang pencapaian tersebut dengan total pendapatan mencapai Rp 7,36 triliun. Sisanya disumbangkan oleh segmen properti & hotel, beton pracetak, jalan tol, dan infrastruktur lainnya.

Direktur Keuangan Waskita Karya Taufik Hendra Kusuma menilai bahwa sektor konstuksi secara umum menghadapi tantangan yang cukup berat pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan sejumlah proyek konstruksi terhenti untuk sementara waktu.

“Memasuki masa PSBB transisi, speed project sudah hampir kembali ke level 100%, jauh lebih baik dibandingkan bulan Maret hingga Juni,” kata dia.

Perseroan juga membukukan arus kas bersih positif dari aktivitas operasi sebesar Rp 1,7 triliun.

Baca Juga : Nilai Kontrak Baru Senilai Rp 8,13 Triliun Diraih Waskita Karya

Pencapaian ini didukung oleh penerimaan kas dari pembayaran termin proyek yang dikerjakan dengan skema turnkey (contractor pre financing) maupun progress payment dengan total mencapai Rp 12 triliun.

“Target kami hingga akhir tahun ini penerimaan termin proyek bisa mencapai Rp 31-33 triliun,” ungkap Taufik.

Waskita juga sedang mengupayakan agar beberapa proyek yang semula menggunakan skema turnkey dapat diubah skema pembayarannya menjadi progress payment.

“Saat ini, likuiditas menjadi salah satu prioritas utama kami. Semua potensi kas masuk sudah kami petakan dan akan dikawal agar sesuai dengan timeline. Kami percaya semua kewajiban kepada kreditur pada kuartal III dan IV dapat terselesaikan tepat waktu,” tutur dia.

Sebagai langkah efisiensi, perseroan melakukan optimalisasi belanja modal sekitar 45% dari target awal tahun 2020 sebesar Rp 19 triliun.

Fokus belanja modal tahun ini akan digunakan untuk menyelesaikan sisa ruas tol yang dimilikioleh perseroan.

Taufik pun menyebut bahwa penyelesaian ruas jalan tol investasi menjadi fokus dari perseroan. Waskita Karya.

Melalui anak usahanya yaitu PT Waskita Toll Road, perseroan memiliki investasi di 16 ruas jalan tol, dimana 10 ruas telah beroperasi secara penuh maupun parsial, sedangkan lima ruas dalam proses pembangunan.

“Kami fokus untuk menyelesaikan seluruh ruas tol investasi agar ruas-ruas ini dapat segera masuk ke pipeline divestasi,” jelas dia.

Lebih lanjut Taufik mengatakan bahwa pihaknya tengah melaksanakan proses pelepasan lima hingga tujuh ruas tol. Ruas yang akan dilepas, antara lain Bekasi-Cawang-Kampung Melayu serta Cibitung-Cilincing.

Perseroan akan mengundang mitra strategis maupun melepas ruas tol melalui penerbitan instrumen ekuitas. Manajemen memperkirakan akan dapat mengurangi utang berbunga hingga Rp 20 triliun.

“Lima hingga tujuh ruas itu sudah punya calon investor, saat ini mereka sedang melakukan proses due diligence. Kami harap seluruh prosesnya bisa selesai pada semester II,” ujarnya.

Per 30 Juni 2020, Waskita masih memiliki total kontrak dikelola sekitar Rp 46 triliun yang dapat diproduksi menjadi pendapatan. Total kontrak tersebut terdiri atas sisa nilai kontrak sebesar Rp 38 triliun dan nilai kontrak baru sebesar Rp 8,13 triliun.

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *