Pandemi COVID-19, Pupuk Indonesia Tak Hentikan Operasional Pabrik

12 0
Pupuk Indonesia Tawarkan Obligasi Rp2,5 Triliun, Buat Apa?

JAKARTA, Isu.Co.Id – PT Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen untuk tidak menghentikan pabrik dan tetap mempertahankan produksi meski diterpa kondisi pandemi COVID-19.

“Sampai dengan Agustus, walaupun ada masalah Covid dan lain-lain, kami tidak ada mematikan pabrik akibat pandemi. Jadi kami pertahankan produksi,” kata Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (1/10/2020).

Bakir Pasaman menjelaskan kapasitas produksi Pupuk Indonesia dengan dukungan anak usahanya mencapai total 13,8 juta ton per tahun dengan rincian 9,4 juta ton per tahun urea, 3,3 juta ton per tahun NPK, 500 ribu ton per tahun SP-36, 750 ribu ton per tahun ZA dan 20 ribu ton per tahun ZK.

Bakir menuturkan kecenderungan produksi urea juga terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Ia meyakini dengan pemeliharaan yang baik, produk pupuk urea yang dihasilkan bisa mencapai 7,7 juta ton.

“Mudah-mudahan level produksi hingga ujung tahun tetap menghasilkan urea sekitar 7,7 juta ton,” katanya.

Bakir menambahkan, untuk produksi pupuk lainnya, perusahaan akan menjaga sesuai kapasitas produksi.

Baca juga : Ditunjuk Menjadi Dirut PT. Pupuk Indonesia, Ini Harapan Warga Untuk Bakir Pasaman

Saat ini, hingga Agustus 2020, produksi pupuk secara keseluruhan mencapai 8,4 juta ton dengan rincian 5,5 juta ton urea, 2 juta ton NPK dan 897,4 ribu ton pupuk lainnya. Ada pun produksi amoniak mencapai 4 juta ton.

Sebelumnya diberitakan, Bakir Pasaman meramal laba yang bakal diperoleh perseroan pada akhir 2020 sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp2,6 triliun karena terdampak pandemi COVID-19.

Ia mengungkapkan, pendapatan usaha perseroan hingga Agustus 2020 mencapai Rp48,20 triliun, masih cukup baik jika dibandingkan dengan total pendapatan usaha pada 2019 sebesar Rp71,31 triliun.

“Memang ada kecenderungan melambat, menurun, karena harga komoditas cenderung menurun, termasuk amoniak dan urea. Namun harga penjualan tetap,” katanya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (1/10/2020).

Berdasarkan data perusahaan, laba perusahaan hingga Agustus 2020 mencapai Rp2,83 triliun. Namun Bakir mengaku kemungkinan capaian laba hingga akhir tahun tidak akan lebih baik dari capaian tahun sebelumnya sebesar Rp5,35 triliun.

“Kalau dilihat dari laba sebelum pajak sampai Agustus memang Rp2,83 triliun. Prognosa kami, nanti tidak akan mencapai laba seperti 2019, mungkin nanti laba setelah pajak sekitar Rp2,5 triliun-Rp2,6 triliun sampai ke ujung tahun. Prognosa kami memang menurun untuk laba, namun masih positif,” jelasnya.

Baca juga : Lelang tender infrastruktur dibuka, diincar perusahaan untuk proyek konektivitas

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *