Isu.co.id – Pandemi Covid-19 telah berdampak kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Direktur Program INDEF Esther Sri mengatakan, dampak pandemi juga tampak kepada ketimpangan di tanah air.

“Untuk perkotaan, indeks gininya mencerminkan ketimpangan ekonomi yang ada di suatu daerah. Kalau di perkotaan lebih tinggi dari pada perdesaan,” ujar Esther dalam webinar LP3ES bertajuk “Refleksi Tentang Situasi Demokrasi di Indonesia: Perspektif Ekonomi” yang berlangsung pada, Rabu (18/8/2021).

Menurut data BPS per Maret 2021, indeks gini perkotaan sebesar 0,401. Sementara indeks gini perdesaan 0,315. Sedangkan secara nasional indeks gini mencapai 0,384.

Menurut Esther, hal itu disebabkan karena kasus-kasus PHK yang terjadi di perkotaan membuat pekerja tidak lagi mendapatkan pendapatan. Sedangkan di desa, sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani di mana pertanian menjadi salah satu sektor yang tidak terdampak besar.

Selain itu, dampak Covid-19 juga berdampak kepada kondisi kemiskinan di tanah air. Esther mengatakan sektor bisnis dan usaha yang menurun akan mendorong perusahaan untuk melakukan PHK besar besaran yang mendorong tingkat kemiskinan terus meningkat.

Dilansir dari data BPS, jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 sebanyak 27,54 juta orang, turun 0,01 juta orang terhadap September 2020, namun naik 1,12 juta orang terhadap Maret 2021. Sedangkan persentase penduduk miskin pada Maret 2021 sebesar 10,14%.

“Untuk provinsi yang paling banyak tingkat kemiskinannya, cukup beragam ya, untuk Papua ya ini tinggi sekali, paling tinggi adalah Papua kemudian Nusa Tenggara Timur,” kata Esther.

Hingga Selasa (17/08/2021) ada penambahan kasus positif sebanyak 20.741 kasus baru di Indonesia sehingga akumulatif menjadi 3.892.479. Sedangkan kasus sembuh bertambah 32.225 sehingga total menjadi 3.414.109. Sementara kasus kematian bertambah 1.180 dengan akumulatif menjadi 120.013.

Dalam acara yang sama, Ketua Dewan Pengurus LP3ES Didik J. Rachbini menceritakan soal teori bandit. Teori itu merupakan salah satu metode menganalisis proses evolusi kekuasaan mulai dari anarki sampai menjadi demokrasi dengan fondasi dasar serta dukungan rule of law.

Pada dasarnya evolusi kekuasaan bermula dari bandit berkuasa dengan merampok di dalam sistem anarki, yang kemudian bertransformasi menjadi menjadi sistem demokrasi dan peradaban dengan formal dari para politisi, pemimpin, negarawan di dalam sistem demokrasi.

Ia mengingatkan, melalui ilmu pengetahuan dan teori ekonomi politik, situasi pandemi Covid-19 yang tidak normal seperti sekarang ini bisa membuat negara tergelincir keluar rel demokrasi.

Selain itu Didik juga mengatakan perlu adanya pengawasan terhadap keputusan-keputusan APBN yang tidak diketahui oleh publik. Salah satunya dengan cara dialog publik.

Source: CNBC Indonesia

Avatar

By admin

Your reaction

NICE
SAD
FUNNY
OMG
WTF
WOW

React with gif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *