Isu.co.id – Dua warga pembela hutan adat Sabuai, Khaleb Yamarua dan Stevanus Ahwalam, divonis 6 bulan percobaan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Dataran Hunimua, Bula, Seram Timur, Maluku, Kamis (25/11).

Majelis Hakim menjatuhkan vonis itu karena menilai meski ada penrusakan terhadap alat berat milik CV SBM, namun kendaraan tersebut masih dapat berfungsi dengan baik, dan kaca yang pecah telah diganti.

Hakim ketua Teopilus Patiung, anggota Jefry Roni Sitompul dan Heri Setiawan menjatuhkan hukuman percobaan 6 bulan kepada kedua terdakwa masing-masing Khaleb Yamarua dan Stevanus Ahwalam karena terbukti melanggar pasal 170 KUHP dan 406 KHUP tentang Pengrusakan Barang dan Kekerasan Bersama Terhadap Barang.

“Menimbang kondisi alat berat tiga kendaraan hanya mengalami kerusakan kaca pecah bagian depan dan belakang serta samping, meskipun sudah tidak utuh dan tidak dapat digunakan lagi, namun dapat diperbaiki,” ujar Patiung saat membaca vonis di Seram Timur, Kamis, (25/11) petang.

Ia menjelaskan kedua terdakwa tidak perlu menjalankan masa hukuman 6 bulan penjara. Jika para terdakwa melakukan tindak pidana apapun selama rentang waktu 6 bulan setelah inkrah mereka otomatis langsung menjalani 6 bulan penjara.

Vonis itu terhadap warga pembela hutan adat di Gunung Ahwale, Desa Sabuai itu lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Sebelumnya, dalam sidang dengan agenda pembacaan tuntutan, Kamis (28/10), jaksa menuntut Khaleb Yamarua dan Stevanus Ahwalam dengan pidana penjara selama 10 bulan penjara.

Khaleb dan Stefanus dijerat Jaksa Penuntut Umum dengan pasal 170 KUHP dan 406 KHUP tentang Pengrusakan Barang dan Kekerasan Bersama Terhadap Barang dengan ancaman pidana 8 tahun Penjara. Sebelumnya Khaleb dan Stefanus bersama 24 warga adat merusak kaca mobil loader  dan dua mobil truk logging merek Nissan milik Direktur CV SBM, Imanuel Quedarusman.

Mereka, dijerat pasal 170 ayat (1) subsidair pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP dan Pasal 406 ayat (1) KUHP.

Dalam perkara ini mulanya Khaleb, Stevanus, dan 24 warga adat Sabuai ditangkap Polsek Werinama, Seram Timur. Mereka ditangkap setelah menggelar protes aktivitas pembalakan kayu liar oleh perusahaan di hutan Gunung Ahwale.

Penangkapan terhadap 26 orang masyarakat adat tersebut terjadi pada Senin (17/2/2021). Dua orang di antaranya kemudian menjadi tersangka, hingga terdakwa yang menjadi pesakitan di meja hijau.

Source: cnn indonesia

Avatar

By admin

Your reaction

NICE
SAD
FUNNY
OMG
WTF
WOW

React with gif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *