ISU.CO.ID – Lembaga riset industri jasa keuangan, IFG Progress, mengusulkan agar struktur biaya produk asuransi unit link dievaluasi dan direvisi. IFG Progress menilai rendahnya pemahaman risiko investasi dan tingginya struktur biaya merupakan tantangan utama yang harus ditangani agar produk unit link tetap relevan. Melalui studi barunya yang berjudul Unit Link 101, IFG Progress mengupas fitur fundamental dari produk unit link, serta perkembangannya di Indonesia.

Baca Juga : Kisruh Unit Link Berakhir Pengetatan Aturan, Perusahaan Asuransi Jiwa Merespons

Mengutip website Otoritas Jasa Keuangan (OJK), unit link adalah jenis asuransi yang mengkombinasikan asuransi permanen (whole life) dengan produk investasi. Dengan kata lain, unit link adalah gabungan antara proteksi sebagaimana umumnya produk asuransi sekaligus juga produk investasi.

“Setelah mengkaji sejumlah produk unit link yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan asuransi jiwa di Indonesia, kami menilai perlunya evaluasi dan revisi struktur biaya dari produk unit link. Analisa kami menunjukkan, kinerja porsi investasi dari produk unit link hingga 5 tahun belakangan relatif di bawah performa benchmark Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indonesia Composite Bond Index (ICBI). Apabila tren ini berlanjut, nasabah bisa jadi lebih memilih produk tradisional asuransi dan produk investasi secara terpisah, dan bukan dalam bentuk unit link,” ujar Head of IFG Progress Reza Siregar melalui siaran pers, dikutip Rabu (2/2/2022).

Hal ini terjadi karena selain biaya akuisisi dan biaya regular pada produk asuransi unit link, terdapat biaya-biaya lain seperti biaya pengelolaan investasi, top-up (isi ulang) premi, pengalihan dana investasi, dan lain sebagainya. Besarnya biaya pengelolaan investasi juga bervariasi tergantung pada jenis unit link yang dipilih nasabah. Semakin tinggi risiko yang diambil, maka akan semakin besar biaya pengelolaan investasi. Dalam hal ini biaya paling besar ada pada jenis investasi dalam bentuk saham, yaitu mencapai 2 persen hingga 3 persen per tahun dari total portofolio.

Baca Juga : Apa Itu Asuransi Unit Link? Yuk, Pahami Risikonya!

Untuk top-up premi minimum umumnya sekitar Rp1 juta per transaksi dengan biaya sebesar 3 persen hingga 5 persen per transaksi. Biaya pengalihan dana investasi pada umumnya gratis di tahun pertama, namun untuk tahun-tahun selanjutnya akan dikenakan biaya 1 persen dari total nilai akun atau minimal Rp25.000 – Rp100.000 per transaksi.

Produk unit link merupakan salah satu produk yang diandalkan dan berkontribusi besar bagi industri asuransi jiwa. Pada 2020, CEIC mencatat jumlah pemegang polis individual asuransi unit link tercatat sebanyak 5,9 juta jiwa atau sekitar 38 persen dari total polis individual asuransi jiwa secara keseluruhan. Sementara itu, jumlah pendapatan premi dari produk unit link per tahun 2020 tercatat oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia sebesar Rp77,6 triliun atau menyumbang sekitar 45 persen terhadap total pendapatan premi asuransi jiwa secara keseluruhan.

Namun demikian, pengaduan akan unit link terus meningkat dari tahun ke tahun, di mana total pengaduan yang diterima OJK di 2020 sejumlah 593 aduan meningkat dari 2019 yang sejumlah 230 aduan. OJK mencatat adanya 273 aduan sepanjang kuartal I/2021, yang sebagian besar dilatarbelakangi mis-selling oleh agen asuransi, di mana pemberian penjelasan terhadap produk tidak sesuai dengan detail yang sebenarnya. Mengingat tren pengaduan yang terus tinggi, besarnya minat pasar pada produk unit link ini harus diimbangi dengan pengembangan dan perbaikan pada unit link secara keseluruhan baik dari aspek regulasi, kinerja perusahaan asuransi, maupun dari penguatan edukasi publik terhadap produk asuransi ini.

Baca Juga : LAPS SJK Siap Fasilitasi Nasabah Unit Link dengan Perusahan Asuransi

Untuk itu, laporan Unit Link 101 juga memaparkan beberapa risiko yang perlu diketahui nasabah terkait investasi unit link beserta jenis dan karakteristiknya, diantaranya adalah risiko asuransi, risiko investasi, risiko likuiditas, dan risiko operasional. Laporan ini juga merangkum karakteristik dari setiap instrumen dapat menjadi pedoman bagi nasabah dalam menentukan instrumen unit link yang akan dipilih sesuai dengan profil risiko mereka. Pemahaman ini akan mencegah asymmetric information dari produk unit-link ini.

“Informasi dan pemahaman mengenai struktur biaya, potensi skenario resiko dan hasil investasi wajib dijelaskan oleh pihak agen asuransi dan dipahami oleh calon pemegang polis unit link. Kami melihat pentingnya peningkatan standar dan pengetatan proses kualifikasi untuk dapat menjadi bagian dari unit atau agen pemasaran dari produk asuransi dan unit link. Pengawasan secara berkala pada kinerja produk unit link dan evaluasi dari kebijakan yang ada juga menjadi bagian penting dari pengembangan produk unit link secara spesifik dan industri asuransi jiwa pada umumnya,” kata Reza.

Avatar

By admin

Your reaction

NICE
SAD
FUNNY
OMG
WTF
WOW

React with gif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *