Jakarta, Isu.co.id – Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) angkat suara terkait banjir di Sangatta.

Dalam keterangan resminya, Kamis (24/3), General Manager External Affairs and Sustainable Development Kaltim Prima Coal Wawan Setiawan meluruskan sejumlah hal terkait sejumlah isu negatif tentang operasional KPC yang disebut berkaitan dengan banjir Sangatta.

Pertama, KPC memastikan pengelolaan air tambang masih sesuai aturan yang dipersyaratkan, baik baku mutu kualitas air maupun debit air keluaran menuju sungai sebagai badan penerima.

Hal ini telah dicek secara langsung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur dan telah diambil sampel di titik penaatan kolam tambang KPC untuk uji laboratorium. Demikian juga dengan debit air yang keluar menuju sungai Sangatta yang masih di bawah standar, seperti Kolam PSS Bendili debit maksimal yang boleh keluar adalah 10,56 m3/detik.

Namun pada saat banjir tanggal 19-20 Maret 2022, debit yang keluar hanya 5,05 m3/detik. Di kolam J Void, debit yang keluar sebanyak 6,12 m3/detik dari 15,6 m3/detik yang diperbolehkan.

Kedua, catchment area tambang KPC hanya menyumbang 6,06% dari total luas daerah aliran sungai (DAS) Sangatta, sehingga kontribusi untuk pembentukan volume air dari wilayah terganggu KPC ke sungai Sangatta juga tergolong kecil. Seluruh area tangkapan air di tambang KPC tertampung di kolam-kolam pengendap berizin dan dilakukan treatment kualitas dan kuantitas airnya.

Untuk DAS Sangatta, ada tujuh kolam yang seluruh baku mutu, kualitas air, dan debitnya memenuhi baku mutu ijin kolam, yaitu Kolam Marsawa, Cempaka, PSS, Melawai 2, WQ27D, WQ27F, WQ33. “Semua kolam ini berjalan normal saat banjir terjadi dan tidak ada yang jebol bangunan airnya seperti issue yang berkembang di media sosial,” terang Wawan dalam keterangan resmi yang disampaikan kepada Kontan.co.id, Kamis (24/3).

Ketiga, pada 18-20 Maret 2022 ada dua kondisi yang memicu banjir besar di DAS Sangatta, yakni curah hujan yang sangat tinggi mencapai 167 mm/hari dengan air pasang yang naik mencapai lebih dari 2,5 meter. Hal ini membuat air hujan yang deras tidak dapat mengalir ke laut dan membanjiri sepanjang sempadan sungai Sangatta. Pantauan pihak KPC di outlet PSS Bendili, justru air dari arah sungai Sangatta masuk ke sungai Bendili dan tertahan lama tidak mengalir keluar sehingga volume lebih besar dari biasanya.

Keempat, anggapan bahwa luas area bukaan KPC sangat mungkin meningkatkan volume air menuju sungai dan menyebabkan banjir saat hujan terjadi tidaklah benar. Menurut manajemen KPC, seluruh air hujan yang jatuh ke area terbuka KPC telah ditampung di kolam-kolam pengendap dan dikontrol, baik kualitas maupun kuantitas airnya.

Selain mengelola air tambang, KPC juga melakukan reklamasi lahan bekas tambang secara progresif. Dari 32.542 hektar lahan yang ditambang, sebanyak 13.267 hektar (40,77%) telah direklamasi kembali. Sejak tahun 2014 luasan target reklamasi KPC selalu di atas 1.000 hektar.

Kelima, karyawan KPC dan kontraktor saat ini berjumlah lebih dari 27.000. Jika ditambah keluarga, maka totalnya sekitar 81 ribu jiwa. Mayoritas karyawan tinggal di Sangatta dan Bengalon, yang mana Sungai Sangatta dan Bengalon menjadi sumber konsumsi. “Untuk itu kami menjaga kualitas air Sangatta dan Bengalon seperti halnya menjaga keluarga dan diri kami sendiri,” pungkas Wawan.
Tag

Avatar

By admin

Your reaction

NICE
SAD
FUNNY
OMG
WTF
WOW

React with gif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *