Di zaman ketika suara lebih mudah viral daripada kebenaran, agama sering kali tidak lagi diperlakukan sebagai petunjuk hidup, melainkan sebagai barang dagangan yang laku keras di pasar opini publik. Yang paling memprihatinkan, bukan sekadar simbol agama yang diperjualbelikan, tetapi klaim tentang kemurnian dan kesucian ajaran itu sendiri. Label “paling lurus”, “paling murni”, dan “paling sesuai syariat” dipakai bukan untuk mencerdaskan umat, melainkan untuk mengunci pikiran, menguasai massa, dan pada akhirnya—mengalirkan keuntungan.

Fenomena ini bukan lagi rahasia. Di banyak ruang publik, mimbar agama telah berubah fungsi. Ia tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat menyalakan cahaya ilmu, tetapi sering kali menjelma menjadi panggung kepentingan. Ayat dibacakan, hadis dikutip, tetapi substansinya diarahkan untuk membangun loyalitas, bukan kesadaran. Yang dijual bukan ilmu, melainkan ketakutan; bukan kebenaran, melainkan klaim sepihak.
Di sinilah umat harus berani jujur: ada orang-orang yang gemar menjual kemurnian agama demi uang, popularitas, dan pengaruh. Mereka membungkus kepentingan pribadi dengan bahasa langit. Mereka memanfaatkan kesalehan publik sebagai pasar yang sangat empuk. Semakin banyak orang takut dianggap salah, semakin besar peluang mereka untuk menjual “jalan yang dianggap benar”.
Padahal sejarah peradaban telah mengajarkan bahwa kebenaran tidak pernah lahir dari kepatuhan tanpa berpikir. Sosok seperti Socrates pernah dicaci dan dihukum karena mempertanyakan keyakinan yang mapan. Namun justru dari keberanian berpikir itulah lahir fondasi ilmu yang bertahan lintas zaman.
Islam pun tidak pernah memusuhi akal. Justru akal adalah salah satu instrumen utama untuk memahami wahyu. Karena itu, ketika ada pihak yang melarang umat bertanya, menekan kritik, dan memaksa kepatuhan mutlak kepada individu atau kelompok, maka yang sedang dijaga bukan agama, melainkan kepentingan.
Sindiran tajam pernah disampaikan oleh Tan Malaka bahwa agama hanya membutuhkan jamaah yang patuh. Dalam realitas hari ini, sindiran itu terasa menampar. Bukan karena Islam mengajarkan hal demikian, tetapi karena sebagian orang sengaja membentuk umat agar hanya patuh tanpa memahami.
Eko Siti Jenar menegaskan bahwa Islam tidak pernah membenarkan taqlid buta. Mengikuti tanpa mengetahui apakah suatu ajaran selaras dengan Al-Qur’an dan Hadis adalah sesuatu yang dicela. Islam menuntut verifikasi, tabayun, dan pencarian ilmu. Maka siapa pun yang mengatasnamakan agama untuk membungkam nalar sejatinya sedang menjauh dari semangat Islam itu sendiri.
Lebih ironis lagi, “industri kesalehan” kini semakin terbuka. Ceramah dibuat sensasional agar laku ditonton. Fatwa dibungkus keras agar mudah viral. Kontroversi dipelihara agar tetap relevan. Dalam kondisi seperti ini, agama sering kali diperlakukan seperti produk media: yang penting menarik, yang penting ramai, yang penting menghasilkan.
Kemurnian agama pun dijadikan merek dagang. Ada yang menjualnya melalui donasi, ada yang membungkusnya dalam program-program eksklusif, ada pula yang menjadikannya alat untuk mengumpulkan pengaruh sosial dan politik. Semua bergerak di atas satu fondasi yang sama: umat yang takut berpikir dan lebih nyaman menyerahkan akalnya kepada orang lain.
Padahal Al-Qur’an telah menegaskan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 85 bahwa siapa pun yang mencari ajaran selain Islam, maka amalnya tidak akan diterima. Namun ayat ini bukan alat untuk membangun monopoli tafsir demi keuntungan. Ayat ini adalah penegasan bahwa Islam adalah agama kebenaran, ilmu, dan petunjuk—bukan komoditas duniawi.
Kemurnian agama tidak bisa dijual, karena kebenaran tidak membutuhkan iklan. Yang butuh dijual adalah kepentingan yang dibungkus agama. Dan di situlah letak bahayanya: ketika umat gagal membedakan antara ajaran suci dan tangan-tangan yang memperdagangkannya.
Sudah saatnya umat kembali kepada esensi. Jangan mudah terpukau oleh suara lantang, simbol religius, atau klaim paling benar. Ukur semuanya dengan ilmu, timbang dengan Al-Qur’an dan Hadis, dan jangan pernah menyerahkan akal kepada siapapun.

Karena ketika agama dijual demi uang, yang dirugikan bukan hanya umat, tetapi juga kesucian ajaran itu sendiri.
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.
Penulis: Eko Siti Jenar.












